"Kalian lumayan kuat juga. Cukup untuk pemanasan," ujar Leena dingin, suaranya tenang namun membawa tekanan halus yang membuat udara seolah menegang. Ia sebenarnya enggan menunjukkan kekuatan sejatinya, namun kerja sama tiga lawannya terbukti tidak bisa diremehkan. Meski kekuatan individu mereka tak sebanding dengannya, teknik khusus dan kekompakan mereka membuat Leena sedikit mengubah sikap.

"Pemanasan?" seru Sandrage dengan nada menghina. "Kau pikir bisa mengalahkan kami? Rasakan ini!"

Tubuh Sandrage mendadak hancur menjadi butiran pasir halus, lalu berputar membentuk pusaran besar yang mengurung Leena dari segala arah. Ia bermaksud menenggelamkan lawannya dalam lautan pasir, membuat Leena kehabisan napas hingga lemas tak berdaya.

Namun Leena hanya tersenyum dingin. Saat pasir itu mendekat, tubuhnya perlahan melayang, dan dari dantiannya mengalir gelombang Qi spiritual yang murni dan kuat. Dalam sekejap, cahaya lembut menyelubungi tubuhnya, lalu meledak menjadi gelombang kekuatan tak terlihat. Pasir-pasir yang hendak menelannya terhempas ke segala penjuru, buyar tak beraturan seperti debu dihempas badai.

Melihat itu, Kilat langsung bergerak. Dengan kecepatannya yang luar biasa, ia mengayun maju sambil mencabut senjata tipis berlapis racun bius dari tangan Ockron. Satu sayatan saja cukup untuk melumpuhkan lawan dalam hitungan detik.

Leena tidak mampu menangkap gerakannya dengan mata biasa, namun persepsinya tajam. Ia menjejak ringan ke tanah, tubuhnya melesat dengan teknik langkah angin, menghindari serangan mematikan itu seolah telah membaca gerakan Kilat sebelumnya.

Kilat mulai pucat. Setiap kali ia menyerang, pedang Leena selalu muncul seolah dari bayangan, siap menebas tubuhnya. Tapi anehnya, setiap tebasan selalu berhenti sepersekian detik sebelum mengenai tubuhnya. Ia sadar, wanita ini sengaja menahan diri, seakan memberinya kesempatan untuk hidup.

"Kilat, aku akan membantumu," seru Ockron sambil melesat ke depan. Beberapa tentakel logam keluar dari punggungnya dan meluncur ke arah Leena dengan gerakan liar dan mematikan.

Leena menyipitkan mata. Serangan dari dua arah sekaligus membuatnya tak lagi menahan diri.

"Golden Abyss Palm," bisiknya pelan.

DUAG!

Sebuah gelombang energi meledak dari telapak tangannya. Qi spiritual mengalir deras, membentuk pusaran cahaya keemasan yang menyambar tentakel-tentakel Ockron. Tubrukan itu menghasilkan ledakan keras; potongan tentakel terlempar ke udara, patah tak beraturan. Ockron sendiri terpental dan menghantam dinding bangunan, meninggalkan retakan besar saat tubuhnya menghantam permukaan keras.

Dari atas, Ratih melihat semua itu dan segera bereaksi. Empat tembakan dilepaskan dalam waktu singkat, peluru-peluru khusus menyusuri udara menuju target. Namun tak satu pun berhasil menyentuh Leena. Gerakan tubuh wanita itu terlalu presisi dan luwes, seolah bisa membaca arah lintasan peluru sebelum ditembakkan.

Sementara itu, Lynx masih berdiri tenang, memperhatikan jalannya pertarungan dengan mata tajam. Ia tertarik saat melihat pasir-pasir Sandrage mulai mengumpul kembali, membentuk tubuh manusia yang utuh. Tubuh yang seolah tak bisa dihancurkan.

"Team, lakukan seperti biasanya!" seru Ratih tiba-tiba.

Kilat langsung bergerak, tak butuh aba-aba kedua. Ia melesat cepat mengitari Lynx dan Leena, menciptakan pusaran gerakan yang nyaris tak terlihat. Pasir-pasir Sandrage membantu, membentuk kabut pekat yang menutupi pandangan dari segala arah.

Dalam kekacauan itu, Kilat melompat keluar dari pusaran, dan Ratih segera menekan perangkat kecil di tangannya.

Ternyata, empat peluru yang ditembakkan sebelumnya bukan peluru biasa. Mereka adalah alat jebakan berteknologi tinggi yang selama ini digunakan untuk menangkap target berbahaya. Begitu perangkat aktif, dari keempat titik itu memancar sinar tipis dari dalam tanah, saling terhubung dalam pola geometris. Dalam sekejap, sinar itu menjulang ke atas, membentuk kurungan berbentuk kubus dari dinding laser yang tak bisa ditembus.

Lynx dan Leena kini terperangkap di dalamnya. Sandrage, dengan tubuhnya yang dapat berubah menjadi butiran pasir, dengan mudah keluar dari jebakan itu dan berdiri di luar, menyeringai.

Dengan kemarahan yang tertahan, Leena mencabut pedangnya dan menebas dinding laser. Namun begitu bilahnya menyentuh medan energi itu...

CRAANG!

Pedang itu patah menjadi dua. Leena menatapnya tak percaya, lalu menggenggam gagangnya erat, wajahnya berubah muram.

"Pedangku..." suaranya parau, antara marah dan sedih. Pedang itu bukan sekadar senjata, tapi teman lama yang menemaninya dalam setiap langkah pelatihannya.

Dengan mata membara, ia mulai mengalirkan Qi ke seluruh tubuh, berniat menerobos keluar dari jebakan itu. Namun sebelum sempat bertindak, Lynx menahan lengannya.

"Jangan. Kita tunggu dulu. Aku mendengar mereka menyebut nama Kanaya... Dia akan datang ke sini."

Leena membeku. Wajahnya seketika berubah. Ia menarik napas perlahan, lalu mengangguk, membiarkan amarahnya mereda, meski matanya masih menatap tajam ke arah musuh di luar.

"Lihat saja, aku akan membalas kalian." Bisik Leena.

Lynx memejamkan mata sejenak. Saat dibuka kembali, pupil matanya berubah, bercahaya samar, dia mengaktifkan mata langitnya. Pandangannya menembus ilusi, dinding, dan kegelapan. Ia menatap ke bawah, menembus permukaan tanah hingga melihat susunan sistem laser yang membentuk kurungan mereka.

Lapisan logam tipis melingkupi inti perangkat. Ia melihat dengan jelas: dari dalam tanah, laser itu dibungkus oleh lapisan padat semi-transparan yang membuat medan energi tetap stabil. Lapisan itu memungkinkan benda berdiri di atasnya tanpa memicu sistem, namun jika dihancurkan atau terganggu secara langsung, laser akan meledak dan memotong segala yang berada di atasnya.

“...Perangkap pintar, dengan alat ini, mereka bisa menjebak lawan yang lebih kuat.” gumam Lynx pelan.

Di luar kurungan, Kilat tertawa, suaranya lantang bergema.

"Akhirnya kalian tertangkap juga. Aku mengakui kalian sangat hebat. Tapi pada akhirnya, tetap saja kami lebih pintar!" ujarnya sambil membusungkan dada.

Sandrage menambahkan sambil bersandar santai, "Kuat? Iya. Tapi kekuatan saja tak cukup. Yang paling penting itu otak, bukan otot. Itu sebabnya organisasi kita menjadi yang nomer satu di dunia ini."

Ockron berdiri dengan tubuh pincang, sebagian tentakelnya masih belum pulih sempurna, namun bibirnya menyeringai puas. "Baguslah kita berhasil menangkapnya. Wanita ini sangat berbahaya, selama aku bertarung baru kali ini mengalami kerugian kerusakan perangkatku."

Leena menatap mereka dengan dingin, tangan masih menggenggam bilah patah pedangnya.

Dari atas langit, pesawat mereka masih melayang tanpa suara. Kamera tersembunyi yang terpasang di badan pesawat terus merekam setiap gerakan di bawahnya, mengirimkan rekaman real-time ke markas rahasia.

Di sebuah ruangan yang penuh dengan monitor dan perangkat teknologi canggih, Komandan Vex duduk di singgasananya yang tinggi. Mantel hitam dengan aksen perak menjuntai di belakangnya, menyatu dengan bayangan ruang kendali yang dingin. Matanya menyala dengan kepuasan saat menyaksikan layar utama.

"Akhirnya… pemuda yang meminum pil super buatan profesor Milo itu tertangkap," ucapnya pelan namun penuh kemenangan. Senyumnya melebar, dingin dan beracun. "Dengan sel genetiknya, dokter Zhang bisa mempercepat penelitiannya membangun ulang pil super."

Sebelum layar monitor menunjukan adegan Lynx dan Leena terkurun, sorot mata komandan Vex sempat berubah saat adegan Leena mengeluarkan jurus Golden Abyss Palm dan muncul di layar. Kekuatan yang dikeluarkan terlihat sangat kuat sehingga dapat menghancurkan tentakel-tentakel Ockron yang sangat kuat.

Komandan Vex teringat perkataan Kanaya mengenai para kultivator di dimensi tempat dia menangkap Lala, mereka memiliki kemampuan yang melebihi metahuman biasa. Awalnya komandan Vex tidak mempercayainya, namun setelah melihat langsung pertarungan Lala melawan para prajurit dan kini pertarungan Leena, dia merasa sangat tertarik.

"Aku harus meneliti kekuatan wanita itu juga." Gumamnya sambil berdiri mendekati layar. "Jika kekuatan miliknya bisa dimanfaatkan untuk subjek eksperimen ciptaanku… maka prajurit super-ku akan menjadi mutlak tak terkalahkan."

Dia menyentuh layar, jarinya menyusuri bayangan wajah Leena. "Cantik dan berbahaya..."

Wajahnya menyeringai penuh nafsu kuasa. “Setelah penelitian pil super ini berjalan lancar, rencana berikutnya adalah menembakkan rudal nukir ke dunia mereka. Manusia-manusia seperti mereka harus dihancurkan sebelum mereka merusak rencanaku kelak." Tekad komandan Vex.

***

Di bawah, dalam kurungan laser yang memancarkan cahaya merah menyala, Leena menatap Lynx. Cahaya dari garis-garis laser memantulkan sorotan tajam di matanya. Tangannya masih menggenggam pedang patah, namun tatapannya mulai tenang.

"Apa kamu yakin… Kanaya akan datang ke tempat ini?" tanyanya dengan suara rendah, nyaris berbisik, tapi nadanya tajam seperti bilah pedang.

Lynx menoleh, sorot matanya serius. "Ya. Aku mendengar wanita di atas sana berkata demikian. Ini kesempatan kita menangkap dan memaksanya menunjukkan posisi Lala."

